Feeds:
Pos
Komentar

tentang Aku dan Kamu

Renungkan kawan,,,

Aku rasa kaupun tau,,,

dunia begitu suram bila kau tak pernah ada

Banyak hal yang pernah kita renungi,

ketika aku dan kamu mengeluh “untuk apa semua ini ??!!!”

bukankah cukup dengan bersapa ria kita berbagi?

Ternyata tidak,,!!

Kebersamaan ini lebih dari segalanya

Kita sama-sama tidak ingin aku hilang,

kau hilang, dan kenangan ini pun menghilang

Ketika ada yang bertanya tentang kita,

Jawablah dengan sigap,,

“Kami adalah kami dengan segala apa yang ada pada kami,

Karena kami bukan mereka yang begitu saja menghilang tanpa jejak,

tanpa sapa, dan tanpa kata,,,,”

kemudian biarkan mereka takjub dengan kesetiaan ini

biarkan mereka banyak bertanya tentang kita,,

karena kita tak akan pernah terjawab.

Kawan,, aku ingin kau tegak berdiri!!

Setegak semeru menjulang tinggi,,

aku sedih bila kau runtuh menyerah,,

tanpa peduli kenyataan.

You’ll be my sweetest lovely memories,

that never been forgotten,,

forever,,,

forever,,

forever,

Gn. Salak

gunungsalakBagi masyarakat yang hobi dan suka alam bebas, Gunung salak merupakan salah satu tujuan mereka guna memenuhi kepuasan untuk bagaimana caranya menghargai dan mencintai alam. Gunung Salak mempunyai pemandangan dan pesona alam yang masih asri. Bila Anda ingin mencoba wisata petualangan dengan mendaki Gunung Salak, Anda dapat menggunakan beberapa jalur pendakian, salah satunya melalui Jalur Girijaya dan Jalur Kutajaya (Cimelati). Gunung Salak sejak jaman dahulu sudah sering dikunjungi oleh para pejiarah, karena terdapat patung pemujaan di puncak gunung Salak. Selain itu terdapat juga makam Embah Gunung Salak yang sering dikunjungi para pejiarah. Sedangkan di kaki Gunung Salak banyak terdapat tempat-tempat keramat, salah satunya adalah makam keramat dan ada juga pura dengan sebutan Kuil Prabu Siliwangi. Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau, karena pada musim penghujan jalur menjadi becek seperti rawa dan licin sekali. Selain itu angin seringkali bertiup kencang. Sebenarnya gunung ini dapat didaki dari beberapa jalur, di antaranya jalur yang umum sering dipakai adalah jalur dari Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi. Dari Cangkuang ini ada dua jalur yakni jalur lama yang menuju puncak Gunung Salak 1 dan jalur baru yang menuju Kawah Ratu. Jalur yang penuh dengan nuansa mistik untuk berziarah adalah jalur dari Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Desa Kutajaya / Cimelati. Di sekitar pintu masuk Wana Wisata ini terdapat tempat-tempat yang nyaman untuk berkemah, juga banyak terdapat warung-warung makanan. Untuk menuju ke Kawah Ratu diperlukan waktu sekitar 3-5 jam perjalanan, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak I diperlukan waktu sekitar 8 jam. Dari bumi perkemahan menuju shelter I, jalur awalnya cukup curam, berupa batu-batuan yang ditata rapi. Kemudian akan memasuki kawasan hutan tropis yang lebat dengan pohon-pohon yang besar, sekitar 1/2 jam kemudian Anda akan melewati jalur yang bervariasi, datar, naik dan turun. Menuju shelter II, jalur mulai lembab dan basah. Beberapa sungai kecil akan Anda lewati, namun bila musim kemarau sungai ini akan kering. Anda akan menyusuri jalur yang banyak ditumbuhi pohon-pohon pisang, namun jangan berharap menemukan buah pisang yang matang karena daerah ini banyak di huni monyet. Bila hari menjelang sore kita akan menyaksikan monyet-monyet bergelantungan di sarang mereka di sekitar jalur ini. Di shelter II ini terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda, dengan pemandangan hutan tropis yang masih lebat, dan di dekat shelter II ini juga terdapat sungai. Menuju shelter III, Anda akan melewati jalan-jalan yang becek dan berlumpur. Bahkan di beberapa tempat, jalur berupa tanah licin yang curam, namun Anda masih agak tertolong adanya akar-akar pohon. Untuk menuju shelter IV jalur semakin curam terutama di musim hujan licin sekali karena berupa tanah merah. Di beberapa tempat Anda akan melewati tempat-tempat becek yang kadang kedalamannya mencapai dengkul kaki. Anda akan melewati dua buah sungai yang jernih airnya, sebaiknya Anda mengambil air bersih disungai tersebut karena di sanalah sumber air bersih terakhir yang bisa dijumpai. Shelter IV merupakan persimpangan jalan. Untuk menuju ke Kawah Ratu ambil jalan ke kiri, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak ambil jalur ke kanan. Di shelter IV yang cukup luas ini Anda juga dapat mendirikan tenda. Bagaimana, cukup seru bukan? nah buat Anda yang hobi wisata petualangan, tidak ada salahnya jika mencoba mendaki Gunung Salak, selain untuk memuaskan hati, Anda juga bisa merasakan keindahan alam yang tak ternilai harganya. (IP) sumber: bogoronline.com

Gn. Cireme

.fullpost{display:inline;}Gunung Ciremai (atau Ceremai, Cereme, Cerme, Careme) secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53′ 30″ LS dan 108° 24′ 00″ BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut.
Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.

Kini G. Ciremai termasuk ke dalam kawasan (calon) Taman Nasional Gunung Ciremai, yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektare.
* 1 Vulkanologi dan geologi
* 2 Jalur pendakian
* 3 Keanekaragaman hayati
o 3.1 Vegetasi
o 3.2 Margasatwa

Vulkanologi dan geologi

Gunung Ciremai termasuk gunungapi Kuarter aktif, tipe A (yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk strato. Gunung ini merupakan gunungapi soliter, yang dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap – Kuningan dari kelompok gunungapi Jawa Barat bagian timur (yakni deretan Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha hingga Gunung Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung.
Ciremai merupakan gunungapi generasi ketiga. Generasi pertama ialah suatu gunungapi Plistosen yang terletak di sebelah G. Ciremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-Plistosen di atas batuan Tersier. Vulkanisma generasi kedua adalah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh membentuk Kaldera Gegerhalang. Dan vulkanisma generasi ketiga pada kala Holosen berupa G. Ciremai yang tumbuh di sisi utara Kaldera Gegerhalang, yang diperkirakan terjadi pada sekitar 7.000 tahun yang lalu (Situmorang 1991).
Letusan G. Ciremai tercatat sejak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937 dengan selang waktu istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga letusan 1772, 1775 dan 1805 terjadi di kawah pusat tetapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Letusan uap belerang serta tembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan 1924. Pada 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. Sebaran abu mencapai daerah seluas 52,500 km bujursangkar (Kusumadinata, 1971). Pada tahun 1947, 1955 dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda daerah baratdaya G. Ciremai, yang diduga berkaitan dengan struktur sesar berarah tenggara – barat laut. Kejadian gempa yang merusak sejumlah bangunan di daerah Maja dan Talaga sebelah barat G. Ciremai terjadi tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa hingga Desa Cilimus di timur G. Ciremai.
Jalur pendakian
Puncak gunung Ciremai dapat dicapai melalui banyak jalur pendakian. Akan tetapi yang populer dan mudah diakses adalah melalui Desa Palutungan dan Desa Linggarjati di Kab. Kuningan, dan Desa Apuy di Kab. Majalengka. Satu lagi jalur pendakian yang jarang digunakan ialah melalui Desa Padabeunghar di perbatasan Kuningan dengan Majalengka di utara. Di kota Kuningan terdapat kelompok pecinta alam “Akar” yang dapat membantu menyediakan berbagai informasi dan pemanduan mengenai pendakian Gunung Ciremai.

Keanekaragaman hayati

Vegetasi

Hutan-hutan yang masih alami di Gunung Ciremai tinggal lagi di bagian atas. Di sebelah bawah, terutama di wilayah yang pada masa lalu dikelola sebagai kawasan hutan produksi Perum Perhutani, hutan-hutan ini telah diubah menjadi hutan pinus (Pinus merkusii), atau semak belukar, yang terbentuk akibat kebakaran berulang-ulang dan penggembalaan. Kini, sebagian besar hutan-hutan di bawah ketinggian … m dpl. dikelola dalam bentuk wanatani (agroforest) oleh masyarakat setempat.
Sebagaimana lazimnya di pegunungan di Jawa, semakin seseorang mendaki ke atas di Gunung Ciremai ini dijumpai berturut-turut tipe-tipe hutan pegunungan bawah (submontane forest), hutan pegunungan atas (montane forest) dan hutan subalpin (subalpine forest), dan kemudian wilayah-wilayah terbuka tak berpohon di sekitar puncak dan kawah.
Lebih jauh, berdasarkan keadaan iklim mikronya, LIPI (2001) membedakan lingkungan Ciremai atas dataran tinggi basah dan dataran tinggi kering. Sebagai contoh, hutan di wilayah Resort Cigugur (jalur Palutungan, bagian selatan gunung) termasuk beriklim mikro basah, dan di Resort Setianegara (sebelah utara jalur Linggarjati) beriklim mikro kering.
Secara umum, jalur-jalur pendakian Palutungan (di bagian selatan Gunung Ciremai), Apuy (barat), dan Linggarjati (timur) berturut-turut dari bawah ke atas akan melalui lahan-lahan pemukiman, ladang dan kebun milik penduduk, hutan tanaman pinus bercampur dengan ladang garapan dalam wilayah hutan (tumpangsari), dan terakhir hutan hujan pegunungan. Sedangkan di jalur Padabeunghar (utara) vegetasi itu ditambah dengan semak belukar yang berasosiasi dengan padang ilalang. Pada keempat jalur pendakian, hutan hujan pegunungannya dapat dibedakan lagi atas tiga tipe yaitu hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan atas dan vegetasi subalpin di sekitar kawah. Kecuali vegetasi subalpin yang diduga telah terganggu oleh kebakaran, hutan-hutan hujan pegunungan ini kondisinya masih relatif utuh, hijau dan menampakkan stratifikasi tajuk yang cukup jelas.

Margasatwa

Keanekaragaman satwa di Ciremai cukup tinggi. Penelitian kelompok pecinta alam Lawalata IPB di bulan April 2005 mendapatkan 12 spesies amfibia (kodok dan katak), berbagai jenis reptil seperti bunglon, cecak, kadal dan ular, lebih dari 95 spesies burung, dan lebih dari 20 spesies mamalia.

Beberapa jenis satwa itu, di antaranya:

o Bangkong bertanduk (Megophrys montana)
o Percil Jawa (Microhyla achatina)
o Kongkang Jangkrik (Rana nicobariensis)
o Kongkang kolam (Rana chalconota)
o Katak-pohon Emas (Philautus aurifasciatus)
o Bunglon Hutan (Gonocephalus chamaeleontinus)
o Cecak Batu (Cyrtodactylus sp.)
o Elang Hitam (Ictinaetus malayensis)
o Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus)
o Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)
o Puyuh-gonggong Jawa (Arborophila javanica)
o Walet Gunung (Collocalia vulcanorum) [masih perlu dikonfirmasi]
o Takur Bultok (Megalaima lineata)
o Takur Tulung-tumpuk (Megalaima javensis)
o Berencet Kerdil (Pnoepyga pusilla)
o Anis Gunung (Turdus poliochepalus)
o Tesia Jawa (Tesia superciliaris)
o Ceret Gunung (Cettia vulcania)
o Kipasan Ekor-merah (Rhipidura phoenicura)
o Burung-madu Gunung (Aethopyga eximia)
o Burung-madu Jawa (Aethopyga mystacalis)
o Kacamata Gunung (Zosterops montanus)
o Tenggiling (Manis javanica)
o Tupai kekes (Tupaia javanica)
o Kukang (Nycticebus coucang)
o Lutung Surili (Presbytis comata)
o Lutung Budeng (Trachypithecus auratus)
o Ajag (Cuon alpinus)
o Teledu Sigung (Mydaus javanensis)
o Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis)
o Macan Tutul (Panthera pardus)
o Kancil (Tragulus javanicus)
o Kijang (Muntiacus muntjak)
o Jelarang Hitam (Ratufa bicolor)
o Landak Jawa (Hystrix javanica)

Gn. Manglayang

Bayangkan diri anda berada di suatu tempat yang menawarkan pemandangan fantastis. Di sebelah barat tempat anda berdiri, terhampar pemandangan city-light Kota Bandung ketika malam, dan di sebelah timur Anda disuguhi siluet puncak Gunung Ciremai yang berada jauh di daerah Kuningan. Di mana Anda bisa menikmati dua pemandangan tersebut dalam satu tempat yang sama? Datang saja ke puncak Gunung Manglayang. Ya, jika cuaca sedang cerah pemandangan di pucak Gunung Manglayang memang menawan. Secara geografis Gunung Manglayang terletak sejauh hampir 21Km di sebelah timur Kota Bandung.

Gunung yang konon adalah bagian tebing dari Gunung Sunda Purba yang ada ribuan tahun lalu ini membentang di antara Gunung Tangkuban Perahu, bukit Tunggul. dan Gunung Burangrang. Jika anda sedang berada di Jatinangor, anda dapat melihat Sang Manglayang menyembul di belakang kampus Universitas Padjadjaran (Unpad). Ada beberapa jalan untuk mencapai kaki Gunung Manglayang, yang juga titik awal pendakian. Yang pertama adalah bumi perkemahan dan Situs Batu Kuda yang berada di daerah Cibiru Kab. Bandung, dan yang kedua adalah Desa Baru Bereum, dekat Bumi Perkemahan Kiarapayung, Jatinangor Kab. Sumedang.

Jalan masuk melalui Baru Bereum ini adalah rute terdekat untuk mencapai puncak pertama Manglayang (puncak timur), yang juga tempat ideal untuk berkemah selain lahan perkmahan yang cukup luas, pemandangannya juga indah seperti yang diceritakan di awal. Sedangkan pada puncak yang kedua (puncak tertinggi Manglayang) tidak terdapat lahan yang luas untuk berkemah, selain itu pepohonannya cukup rapat sehingga menghalangi pemandangan. Mendaki gunung yang memiliki ketinggian ± 1812m di atas permukaan laut (dpl) ini tidak bisa dianggap remeh. Medan yang akan anda hadapi sungguh menantang, perpaduan antara kelebatan semak berduri dengan jalan setapak berpasir yang licin.

Dibutuhkan waktu kurang lebih 4 Jam perjalanan dari Baru Bereum untuk dapat mencapai puncak Manglayang dengan tempo pendakian sedang. Stamina anda akan diuji ketika melewati tanjakan tanpa henti dengan sudut kemiringan sekitar 45 – 60 derajat. Sejak titik awal pendakian di desa Baru Bereum jalur terus menanjak dan dapat dikatakan tidak ada jalur yang landai. Tapi pemandangan sepanjang perjalanan dapat menghilangkan kelelahan tersebut, mulai dari kerindangan hutan pinus, hamparan persawahan di kejauhan sampai lembah Manglayang yang hijau menyegarkan dapat anda nikmati. Sepanjang jalur pendakian dari Baru Bereum sampai puncak Manglayang akan sulit menemukan sumber mata air, sehingga membawa banyak perbekalan air adalah pilihan yang bijak. Perlu diingat juga selama anda dalam perjalanan sampai tiba puncak dan kembali lagi ke rumah, jangan ambil apapun kecuali gambar dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki. Memang, Gunung Manglayang tidak sepopuler gunung-gunung lain yang ada di sekitar Bandung. Tapi jika Anda ingin sesekali mencoba berpetualang di alam bebas untuk sejenak melepaskan kepenatan sehari-hari, tidak ada salahnya Anda mencoba mendaki Manglayang.

Gn. Gede Pangrango

1_384382534l

Gunung Gede (2958 mdpl) dan gunung Pangrango (3019 mdpl) terletak pada posisi 106′ – 107′ BT dan 64′ -65′ LS, secara administratif berada di kabupaten Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Gn. Gede merupakan Gn. api Strato yang usianya lebih muda dibanding kembarannya Gn. Pangrango yang pasif. Kedua gunung yang sangat terkenal di Jawa Barat ini merupakan obyek favorit para peneliti dan ahli konservasi tumbuhan melakukan penelitian sejak beberapa abad yang lampau, ditandai dengan adanya pembukaan jalur tenggara oleh Sir Thomas Raffles (1811) selanjut oleh C.G.C Reinwardt (1819) dan eksplorasi penting lainnya yang dilakukan oleh saintis dalam dan luar negeri. Curah hujan tejadi pada bulan Oktober – Mei (kalo belum berubah akibat global warming), karenanya sangat baik mendaki pada bulan Juni – September, situasi crowd dan merupakan bulan puncak pendakian terjadi setiap bulan Agustus, tepatnya setiap tanggal 17 Agustus karena ada upacara bendera di alun – alun Surya kencana Gn. Gede. Akses Pendakian 1. Jalur Cibodas Cipanas, adalah jalur yang resmi yang paling sering dilalui pendaki dan paling aman. 2. Jalur Gunung Putri Sukabumi, jalur singkat menuju Gn. Gede (2958 mdpl), sebelum mencapai puncak bisa istirahat dulu di alun-alun Surya Kencana 3. Jalur Selabintana Sukabumi, jalur liar yang tidak disarankan bagi pendaki pemula dan sangat terjal serta sering muncul kabut yang menghalangi pandangan. 4. Jalur Situgunung Sukabumi, masuk dari taman rekreasi Situgunung, jalur yang dangerous untuk didaki tanpa persiapan matang, ada air terjun Sawer di ketinggian 1200 mdpl dengan sungai yang cukup lebar. Jalur Pendakian: Cibodas – Cipanas * Dari Bandung via Cianjur atau dari Jakarta via puncak turun di pertigaan Cibodas, dilanjutkan ke arah kebun raya * Dari Kebun raya Cibodas menuju mencapai puncak Pangrango kira-kira 12 km. Sebelum mendaki wajib lapor ke posko pendakian. * 2 kilometer selepas Cibodas, jalan landai dan nyaman memotong Ciwulan, di sini bisa rehat sejenak di Telaga Biru sungguh menyenangkan. * Telaga Biru ada di ketinggian 1575mdpl, daerah vegetasi submontana bisa ditemukan Owa Jawa dan pohon Rasamala raksasa, setelah melintasi Panyancangan Kuda teruslah mendaki menuju ketinggian 1625mdpl menuju pertigaanCibeurem dan mampirlah di air terjun Cibeureum yang indah. Ada beberapa air terjun yang bisa dinikmati seperti air terjun Ciwalen, Cikundul dimana airnya berasal dari sungai yang sama. Akan terlihat anggrek Lumut Merah (sphagnum gedeanum) sebagai nuftah endemik yang tumbuh di tebing-tebing dilalui oleh kelelawar yang keluar masuk dari Goa Lalay * Kira-kira sejam perjalanan ketemu sungai air panas diatas ketinggian 2150 mdpl, suhunya air panasnya berkisar 75′ c tetapi bisa berubah menjadi sangat dingin saat hujan turun, pemandangan sangat beraura mistis karena banyaknya kepulan dari uap air dari batuan lava, teruslah mendaki sampai tiba di Lebak Saat atau lembah tanpa air. Bisa dijumpai aliran air yang bening, biasanya tempat ini dijadikan kamp untuk bermalam sebelum melanjutkan ke Kandang Batu. * Dari Kandang Batu lintasan mulai menanjak dan terjal, banyak material batu akibat letusan Gn. Gede, terus mendaki menuju Kandang Badak yang bisa diempuh sekitar sejam. * Dinamakan Kandang Badak karena pos ini kadang becek jika hujan turun, pos yang berada di ketinggian 2395 mdpl akan menemukan persimpangan. Yang ke kiri menuju puncak Gede, dan yang ke kanan menuju puncak Pangrango. * Sebelum mendaki puncak, siapkan bekal air yang cukup karena perjalanan menuju puncak bisa ditempuh sekitar 3-4 jam melewati vegetasi Sub Alpin yang rimbun dan lebat. Puncak Pangrango jarang didaki karena datarannya sangat rimbun dan sepi, dari sini terlihat alun-alun Mandalawangi. Jika malam hari berada dipuncak ini dan cuaca cerah bisa melihat kota Jakarta seperti kumpulan kunang-kunang * Jika ingin ke puncak Gede dari Kandang Badak belok ke kiri menuju puncak Gede ditempuh dalam waktu 2 jam melewati Tanjakan Setan, selepas tanjakan akan ditemukan kawah Ratu dan Kawah Wadon, kawah Baru,kawah Lanang serta kawah Sela dan terakhir kawah gunung Gede di ketinggian 2958 mdpl dengan uap belerang yang menyengat. Kamus: Gn. strato : gunung yang kubahnya terjadi akibat lelehan aliran lava yang eksplosif & efusif terus menerus, sehingga selain kerucutnya berbentuk kubah juga tampak berlapis-lapis. Vegetasi Submontana (1,000-1,500 mdpl): Kondisi tanah biasanya dalam, basah, kaya dengan bahan-bahan organik dan partikel tanah yang subur seperti tanah liat Vegetasi Sub Alpin (2,400-3,019 m d.p.l) : Hutan di zona sub alpin hanya terdiri dari 2 lapisan yaitu lapisan pohon yang tumbuh kerdil, rapat dengan batang pohon yang kecil, dan lantai hutan dengan tumbuhan bawah yang jarang. kondisi tanahnya miskin hara dengan jenis tanah berbatu (litosol).

Gn. Tampomas

_vv_227Taman Wisata Alam Gunung Tampomas masuk Kecamatan Buah Dua,Congeang, Sindangkerta dan Cibeureum Kabupaten Sumedang. Keadaan lapangan kawasan Taman Wisata ini bergunung-gunung dengan ketinggian antara 625 – 1.684 meter di atas permukaan laut. Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson aebagai berikut: Iklim termasuk tipe iklim B Curah hujan rata-rata 3.518 mm per tahun.

Flora Vegetasi kawasan ini termasuk tipe hujan hujan pegunungan, floranya terdiri dari beraneka ragam jenis pohon-poonan berkayu serta jenis-jenis dari golongan liana dan epiphyt. Flora yang mendominasi kawasan adalah: Jamuju (Podocarpus imbricatus) Rasamala (Altingia excelsea) Saninten (Castanea argentea) Fauna Satwa liar yang hidup dalam kawasan ini adalah : Kancil (Tragullus javanicus) Lutung (Trachypithecus auratus) Babi Hutan ( Sus vitatus) Beberapa jenis burung.

Daya Tarik Obyek Beberapa obyek wisata yang menarik di kawasan Gunung Tampomas yaitu: Puncak Gunung Tampomas (Sangiang Taraje) Dengan ketinggian ± 1.684 meter diatas permukaan laut, seluas 1 Ha merupakan areal terbuka. Lokasi ini memiliki nilai estetika tinggi karena dari tempat ini wisatawan dapat menikmati pemandangan alam yang indah ke arah Sumedang dan sekitarnya. Adanya lubang-lubang bekas kawah dan batu-batu besar berwarna hitam menambah kekayaan imajinasi bagi yang melihatnya.

Makam Keramat Terletak ± 300 m ke arah Utara Puncak Sangiang Taraje, tempat ini lebih dikenal dengan nama Pasarean. Menurut kisah, kedua makam tersebut merupakan peninggalan (patilasan) dari Dalem Samaji dan Prabu Siliwangi pada waktu kerajaan Pajajaran lama

Sumber air,Terletak di kaki Gunung Tampomas sebelah Utara, dengan debet air 202 liter per detik. Keindahan alam dengan flora dan faunanya yang masih utuh/asli Kegiatan Wisata Alam Yang Dapat Dilakukan

Kegiatan wisata alam yang dapat dilakukan adalah: Menikmati pemandangan alam yang indah dan sejuk Pendakian gunung dan lintas alam Berkemah Memotret Sarana dan Prasarana Jumlah sarana dan prasarana masih sangat minim, saat ini hanya terdapat: Pos jaga Jalan setapak Pos karcis.

Rute perjalanan untuk menuju lokasi Taman Wisata Alam Gunung Tampomas adalah:
Bandung – Sumedang – Cibeureum Wetan – Cimalaka, sejauh ± 53 Km Cirebon – Kadipaten – Cibeureum Wetan ± 74 Km Dari Cibeureum Wetan – Cimalaka menuju lokasi (pintu masuk kawasan) ± 6 Km, dengan kondisi jalan berbatu.

SKANDAL II 2009

PENGUMUMAN

KMPA MAHACHALA pada minggu ke-3-4 maret 2009 akan melaksanakan       IN HOUSE SKANDAL (Masa Pendidikan Dasar dan Analisa Lingkungan)

Bagi Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Jakarta Angkatan 2008, 2007, dan 2006 yang mau ikut serta dalam kegiatan ini, segera menghubungi sekretariat. atau hubungi saudara Chi-onk (Rukhiyat).

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.